Thanks, Google.

Meskipun bisa meracik kopi sendiri di rumah, perasaan ingin minum kopi di coffee shop masih saja datang. Alhasil saya mampir ke salah satu coffee shop tempat biasa saya memesan custom coffee ala saya sendiri. Ya, triple shot on the rock with liqud.

“Oke, sebentar, saya mau pesan kopi dulu ya. Hold on.”, ucap saya seraya menjeda panggilan telepon yang sedang berlangsung dan segera jalan memasuki coffee shop ini.

“Seperti biasa kak, Berry?”

“Iya. Jangan di-stir, ya.”

Sembari menunggu pesanan saya dibuat, mata saya mengitari ruangan coffee shop ini, berharap ada kursi kosong yang bisa saya duduki. Namun sepertinya semua kursi telah terisi oleh para peminum kopi dari yang masih utuh sampai yang sudah habis sekalipun.

Aha! Akhirnya ada satu kursi agak ke arah pojok ruangan yang nampaknya akan dilepaskan oleh pemilik sebelumnya. Gerak-geriknya nampak jelas bahwa ia akan segera pergi dari coffee shop ini.

“Kak, Berry…”, sahut sang barista memberi tahu kalau pesanan saya sudah bisa diambil.

Langsung setelah mengambil pesanan, saya pun menghampiri kursi kosong tersebut.

Tersadar kalau saya masih terhubung dengan panggilan telepon tadi, langsung saya lanjutkan sambil mulai menikmati kopi yang saya pesan tersebut. Selalu nikmat.

“Ya, ya… sorry. Sampai mana tadi?”

“Iya, gpp. Kamu jadi pesan apa sih? Kopi lagi?”, tanyanya sambil melanjutkan “Saya gak terlalu minum kopi, sih. Cuma pernah minum kopi yang… duh… apa ya namanya itu. Ada merek kopi yang terkenal banget deh, dari Amerika… Duh… Logonya ada ceweknya gitu…”, jelasnya sambil mencoba mengingat-ingat kembali.

“Apa sih? Hmm… Yang ada ceweknya?”, saya menanggapi dengan bingung dan juga agak sedikit teralihkan lantaran sambil menyalakan laptop dan men-set up posisi barang-barang di atas meja yang saya gunakan.

“Boleh saya telpon beberapa menit lagi, saya coba ingat-ingat atau google dulu.”, pintanya sambil memutus telepon.

Sambil menunggu, saya lanjut memulai aktivitas di dalam laptop, cek email, cek beberapa pekerjaan yang masih harus diselesaikan dan lainnya, oke, termasuk buka whatsapp desktop. Haha.

Tak sampai 1 menit, telepon seluler saya kembali berdering.

“Oke, gimana? Sudah tahu apa namanya?”, tanya saya sesaat setelah menerima panggilan telpon tersebut.

“Starbucks. The brand is Starbucks. Haha…”, jawabnya dengan diiringi tawa garing.

“My God. Ini yang sedang saya minum tuh itu. Saya gak ngeh karena sepertinya brand ini mulai menghilangkan icon logo nya itu, the green lady. Makanya, saya gak nyambung banget, dan lupa sih lebih tepatnya. Dan lagipula, itu merek sangat populer, kok sampai kamu lupa namanya, sih?”, jelas saya sembari ikut tertawa.

“Hahaha… Iya, iya. Saya kan sibuk, jadi gak terlalu hafal untuk hal-hal seperti itu. Tapi bagaimanapun, thanks to Google.”

“Haha… yes, thanks, Google.”, jawab saya sambil mengernyitkan dahi.

Dan kami pun larut dalam tawa kebodohan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: