• #BiSik (red : Bincang Asik) #KlubBuku dengan Editor Hetih Rusli Hetih dari Gramedia Publishers.

    Tiga tugas paling utama dari seorang editor adalah mencari naskah, memperbaikinya, lalu menerbitkannya. Dulu ada ungkapan bahwa editor adalah jenderal berbintang lima bagi setiap buku yang diterbitkannya. Saya rasa, ungkapan itu masih tetap berlaku sampai sekarang.

    Tugas yang pertama adalah mempertimbangkan “nilai komersil dan nilai sastra” dari sebuah naskah berdasarkan selera Anda. Caranya ialah dengan banyak membaca. Andalah yang memutuskan apakah penulis ini layak untuk diangkat, apakah naskah ini pantas untuk diterbitkan, dan apakah penulis berbakat ini pantas untuk dikembangkan.
    Sosoknya yang dibelakang layar, memang kerap membuat peran editor ‘tidak nampak’ di mata pembaca.

    Padahal, editor adalah salah satu figur pengawal standar mutu dunia literasi.
    Beliau adalah Penerjemah buku Trilogi The Hunger Games yang sekarang sedang meraih sukses dalam penjualannya di dunia, termasuk di Indonesia. Perjalanan yang cukup panjang bagi buku ini untuk bisa meraih gelar BEST-SELLER di Indonesia, apalagi sebelumnya belum banyak yang tertarik dengan buku bertema dystopian ini.

    Yuk, langsung saja kita lihat petikannya #BiSiK Eps #4 bersama Hetih Rusli :

    #KlubBuku: Selamat malam Mbak Hetih. Bisa jelaskan sedikit tentang profil Mbak Hetih ke #SahabatKlubBuku semua? :”D
    H : Saat ini saya bekerja sebagai editor fiksi di Gramedia Pustaka Utama. Pekerjaan yang sudah saya jalani 12 tahun.

    #KlubBuku: Nah, Kegiatan Mbak Hetih saat ini apa saja selain sebagai editor dan juga penulis?
    H : Sebagai editor, mencari dan membaca naskah yg masuk ke redaksi. Mengedit dan proofread naskah yang sudah disetujui terbit. Sayangnya saya belum jadi penulis. Cuma penulis tergantung mood di blog pribadi.

    #KlubBuku: Bisa diceritakan ke #SahabatKlubBuku, gimana awal mula Mbak Hetih akhirnya bisa ‘terjerumus’ dalam dunia editor?
    H : Sebenarnya saya tersasar jadi editor karena latar belakang saya fakultas ekonomi. Mulainya karena jadi penerjemah freelance saat kuliah.

    #KlubBuku: Sebutan editor sangat banyak seperti associate editor, acquiring editor, associate publisher & publisher artinya apa?
    H : Untuk artinya bisa cek wiki: http://t.co/4Zgzl1E7 Tdk semuanya dimiliki perusahaan penerbitan tergantung kebijakan. Penerbitan besar bisa punya beragam kategori editor tersebut. Tapi penerbit kecil tidak butuh jenjang sebanyak itu.

    #KlubBuku: Apakah seorang editor harus berlatarbelakang sebagai seorang penulis juga ?
    Tidak juga. Editor tak perlu berlatarbelakang sebagai penulis. Yang pasti editor HARUS pembaca, dan suka membaca.

    #KlubBuku: Pernahkah ada kasus bantuan editorial tidak diperlukan lagi oleh penulis dan penerbit?
    H : Sepanjang saya jadi editor di GPU, setiap buku yang terbit selalu melewati proses editorial.

    #KlubBuku: Bagaimana dengan pengarang yang membutuhkan begitu banyak bantuan editorial? Cepek gak mbak Hetih ?
    H : Sebanyak apa? Kalau editornya harus menulis ulang, lebih baik penulisnya merevisi sendiri. Tugas editor bukan menulis ulang. Jika penulis nggak sanggup revisi sendiri, minta bantuan ghost writer halal aja. Tapi bukan tugas editor menuliskan untuknya.

    #KlubBuku: Apa yang menjadi ukuran dari keberhasilan seorang editor?
    H : Ukuran saya sih; Ikut bangga jika pengarangnya sukses, menghasilkan bestseller, dan terutama tetap bahagia jadi penulis.
    #KlubBuku: Apa kompetensi yang wajib dimiliki seorang editor. Apa ada pendidikan khusus untuk itu ?
    H : Pastinya punya dasar kemampuan bahasa yang baik & benar. Mau terus belajar karena bahasa berevolusi. Terpenting, cinta buku & baca. Peningkatan kemampuan bahasa juga bisa dengan kursus atau mengambil kuliah bahasa lagi, walau ini cuma tambahan.

    #KlubBuku: Apakah pandangan pribadi seorang editor harus merupakan refleksi dari pandangan perusahaan?
    H : Tidak harus. Tapi sebaiknya editor sepaham dgn perusahaan tempatnya bekerja. Kalau tidak, bagaimana bisa betah dan bahagia?

    #KlubBuku: Apakah yang terjadi bila terjadi perbedaan pendapat antara editor dan pengarang tentang arah sebuah naskah/buku?
    H : Bisa diskusi dan diobrolkan. Editor dan penulis tak perlu saling memaksakan kehendak. Biasanya sih bisa diselesaikan baik2.

    #KlubBuku: Bagaimana seorang pengarang harus memandang editornya?
    H : Editor = partner penulis. Harus saling percaya dan kerja sama antara keduanya. Kedudukannya seimbanglah, seperti suami-istri :)

    #KlubBuku: Apakah nasehat yang akan mbak Hetih berikan kepada para editor dalam berhubungan dengan pengarang?
    H : Jangan merasa lebih pintar daripada si pengarang. Tapi jangan takut/minder pada dia. Berikan yang terbaik dari kita untuknya.

    #KlubBuku: Bisakah naskah kita diterbitkan sebuah perusahaan penerbitan, tapi ditangani oleh editor yang tidak bekerja di perusahaan tersebut?
    H : Jika maksudnya editor yang tidak bekerja tetap di perusahaan, tentu ada. Bisa saja naskah diedit oleh editor freelance.

    #KlubBuku: Apakah tidak ada pengarang yang bisa melakukan tugasnya dengan baik tanpa bantuan editor?
    H : Penulis yang baik bukan berarti dia tak lagi butuh editor. Tugas editor bukan cuma memperbaiki ejaan atau kesalahan penulis Editor memberi sudut pandangnya sebagai pembaca pada penulis. Sesuatu yang takkan mungkin dimiliki penulis pada naskahnya. Sudut pandang editor juga menjadi jembatan antara penulis dan pembaca. Di sinilah perlunya editor sebagai partner penulis
    .
    #KlubBuku: Apakah editor dan pengarang perlu senantiasa membahas aspek pemasaran sebuah buku?
    H : Tidak harus. Tergantung pengarangnya, ada yang gak mau tahu soal itu. Tapi editor yang baik harus punya ‘sense’ sebagai pemasar.

    #KlubBuku: Apakah ada pengarang-pengarang berbakat yang karyanya mubazir karena mereka tidak berhasil menemukan penerbit?
    H : Saya gak percaya ada karya yg mubazir. Paling tidak, karya itu seharusnya bisa memperkaya batin si penulis. Setiap naskah punya jalannya sendiri untuk terbit. Jika memang bagus, ada jalan untuk terbit asal ga cuma di-save di komputer

    #KlubBuku: Bagaimana menentukan satu buku yang bisa jadi bestseller?
    H : Dari penjualan tentunya. Biasanya jika berhasil terjual di atas 10rb eksemplar termasuk bestseller. Tapi bagaimana memprediksi buku jadi bestseller, saya ga punya resepnya. Lengkapnya tentang ketidaktahuan saya di: http://t.co/AOFR7evk

    #KlubBuku: Pesan-pesan Mbak Hetih untuk para penulis khususnya para penulis baru yang ingin mengirim naskah ke penerbit? :”D
    H : Jangan takut mengirim naskah ke penerbit. Ingat, pengarang yg sekarang bestseller itu dulu mulainya dr pengarang baru lho.

     

    Demikianlah petikan Bincang Asik #BiSik #KlubBuku bersama Hetih Rusli , semoga #BiSik Eps. #4 ini memberi manfaat.
    #BiSiK (Bincang Asik) adalah salah satu agenda dari @KlubBuku , sebuah akun komunitas para pecinta buku, yang berisi tentang perbincangan menarik dari berbagai tokoh pendukung literatur, #BiSiK ini hadir setiap Minggu malam pukul 19.30wib.

     

     

  • “Jadi, cuma itu caranya?”

    “Iyalah, biar tahu rasa!”

    “Nanti kalau dia malah gak respon gimana? Gagal dong…?!”
    Angie semakin bingung.

    “Dengan gitu, lo akan tahu segimana berartinya lo buat dia!”, lanjut Sarah meyakinkan.

    Angie tak mau salah ambil tindakan. Berbagai tindakan untuk menggertak kekasih nya itu tidak pernah membuahkan hasil maksimal. Ia pernah berencana untuk pura-pura hamil. Dan akhirnya gagal, karena hal ini tak akan mungkin.

    “Bagaimana kalau lo pura-pura tobat?!”, celetuk Sarah berapi-api.

    “Tobat?”

    Selintas dibenak Angie ini pertanda baik. Dengan begitu, Audrey akan merengek-rengek bahkan berlutut memintanya kembali.
    Audrey seorang perempuan yang juga kekasihnya selama 4tahun belakangan ini.

  • “Awaaaaaaaaasss…!!!”

    “Ya Tuhaaaaaaaaaaan…!!!”

    “Awas, Buuuuuuuuuuuu…”

    “Astagfirullaaaaaaaaaah, awaaaaaas……”

    “Astagaaaaaaaaaaaaa………”

    “Minggiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiir………….”

    Seketika suasana persimpangan jalan yang dilalui rel kereta listrik itu kembali mencekam. Semua orang tak kuasa melihat kejadian yang ada di depan matanya. Tergeletak seorang ibu dan bapak paruh baya yang terlempar karena hantaman keras kereta api listrik yang melintas. Sungguh. Kejadian ini sudah yang kesekian kalinya. Warga sekitar stasiun tebet dan stasiun Cawang kerap kali melihat kejadian serupa. Lampu peringatan beserta alarm peringatan pun sudah tidak berfungsi dengan baik.
    Tak ada yang berani mendekati mayat keduanya. Hanya memandang miris. Beberapa menit kemudian, semua orang melanjutkan aktivitasnya masing-masing.


    Jakarta pagi ini.

  • “Baiklah… Pukul 4.30 sore ya…?”

    “Seperti biasa, di tempat biasa kan? Okey…”

    Saya menyudahi pembicaraan via seluler itu. Bergegas merapikan rambut yang sedari pagi saya gulung dengan rollan rambut murahan ini. Tepat wajah didepan saya, sungguh beda dari biasanya. Dengan rambut bak gelombang pas dengan wajah yang saya lihat di cermin.

    Telepon berdering lagi. Seperti pengganggu saja. Mengulur waktu berdandan, kalau saya angkat. Saya biarkan saja ia terus bernyanyi.

    Sudah 45menit ditempat biasa. Tante Molly tak kunjung datang. Kulihat telepon genggamku dan ada pesan masuk.

    Sayang, maaf ya… Anak tante baru saja datang dari luar kota. Nanti tante kabari lagi ya…

  • Movie impact dari acara Komedi musikal yang sukses secara pemasukan dan menjadi bukti bahwa film ini berkesan dan merebut perhatian penonton pada eranya. Dengan pendapatan di atas $100 juta adalah bukti bahwa inilah film ngehit dan laris. Hal ini jelas menginspirasi sineas lain untuk mencoba peruntungan dengan menggarap komedi ala The Blue Brothers. Inilah beberapa contoh komedi yang diharapkan bisa mendulang pemasukan dan juga atensi yang diambil dari berbagai sumber.

    1. SISTER ACT (1992)

    Thouchstone Pictures; D : Emile Ardolino; Whoopi Goldberg, Maggie Smith, Kathy Najimy.

    Box Office : $231,605,150

    Plot : Deloris Van Cartier harus menyamar sebagai Sister Mary Clarence karena dirinya menjadi saksi aksi kekerasan. kelucuan pun banyak terjadi karenanya.

    Good or Bad?

    Sosok Whoopi Goldberg yang memang tampak kocak begitu menyatu dengan peran-peran lucu seperti yang terjadi dalam film ini. Hasilnya, Sister Act menjadi salah satu film Whoopi yang bersejarah tentunya, terutama sektor box office…

    2. SCHOOL OF ROCK (2003)

    Paramount Pictures; D: Richard Linklater; Jack Black, Mike White, Joan Cusack.

    Box Office : $131,282,949

    Plot : Dewey Finn (Jack Black) dengan segala tingkah polahnya yang aneh dan eksentrik mencoba jadi guru sekaligus membentuk sebuah band dengan satu tujuan yaitu membayar uang sewa apartemennya.

    Good or Bad?

    Faktor Jack Black yang tenar sebagai komedian lah yang menjadi suguhan utama film ini. ‘Kegilaannya’ dan kehebatannya dalam bidang rock, dia jawab dengan menghasilkan pemasukan film yang cukup sukses… Welldone, Capt!!! =D

    3. STILL CRAZY (1998)

    Columbia Pictures; D: Brian Gibson, Stephen Rea, Billy Connolly, Jimmy Nail.

    Box Office : $477,903 (USA)

    Plot : Setelah beberapa dekade terpisah, para member rock band ‘Strange Fruit’ dibujuk untuk ‘reuni’ dan perform lagi ditempat terakhir mereka konser. Tentu saja diperlukan persiapan yang khusus agara mereka bisa tampil seprima dulu.

    Good or Bad ?

    Masuk dalam daftar nominasi Golden Globe di dua kategori yang berbeda sudah merupakan sebuah kebanggaan tersendiri khususnya untuk sosok yang menukangi film ini (Brian Gibson). Satu lagi datang dari lagu ‘The Flame Still Burns’ yang menjadi nominator Best Original Song – Motion Picture.

    4. AUSTIN POWERS: INTERNATIONAL MAN OF MYSTERY (1997)

    New Line Cinema; D: Jay Roach; Mike Myers, Elizabeth Hurley, Michael York.

    Box Office : $67,683,989

    Plot : Austin power dibantu oleh Vanessa Kensington berusaha menghentikan kegilaan Dr. Evil yang meminta bayaran tinggi dari senjata nuklir yang ia curi. Dr. Evil memang sangat berambisi untuk menguasai dunia dan hanya Austin Power lah yang punya cara jitu untuk menghalangi niat jelek itu.

    Good or Bad ?

    Akting memikat diperagakan oleh My Myerr. Muncul pula cameo sosok-sosok terkenal seperti Will Ferrell. Carrie Fisher, Tom Arnold, Rob Lowe, Christian Slater, Neil Mullarkey, dan Burt Bacharach. Kisahnya yang merupakan lelucon dari agen rahasia di era 60’an membuat film ini menjadi sebuah cult classic lengkap dengan perolehan labanya.

    Demikian hasil rangkuman saya yang didapat dari berbagai sumber, dan tentunya masih banyak film komedi musikal yang mempunyai kesuksesan di era-nya masing-msaing. Tak ada salahnya juga kita ikut meniru kesuksesan yang sudah diraih dari film-film terdahulu dengan ditambah cerita-cerita segar dan tentunya pemain yang sangat kompatibel dalam genre film komedi klasikal ini.

    Salam!