Ada Tapi Yang Tak Usai

Senja semakin menguning. Entah mau melanjutkan tugas-tugas ini atau tidak, Shandy tampak ogah-ogahan mengerjakannya. Tugas kantor yang menumpuk beberapa hari ini akibat salah satu rekan editornya mendadak mengundurkan diri dari tempat dimana ia bekerja saat ini. Sebuah perusahaan penerbitan buku yang tidak teramat besar, tapi cukup berpenghasilan untuk menafkahi para karyawannya yang masih setia bertahan.

Tiba-tiba Shandy melirik kearah jendela kaca sebelah kanannya. Ia mengernyitkan dahi, langit sore kali ini cukup tak bersahabat baginya yang ingin melanjutkan perjalanan pulangnya menuju kampus. Sebagai mahasiswa yang juga seorang pegawai adalah hal sulit untuknya membagi fokus dan waktu jika keduanya sama-sama penting. Take it or leave it. Sekali mengambil keputusan, apapun resikonya, ya mesti dijalani dengan penuh tanggung jawab.

Sekeliling ruang kantor pun sudah sepi, hanya saja ada beberapa yang masih tinggal karena memang menunggu jam-jam macet usai. Jakarta kalau tanpa macet ya kurang afdol. Hanya pada saat hari-hari besar saja Jakarta menjadi dirinya sendiri. Menjadi bebas bernapas yang sebelumnya sudah sesak dengan kepulan asap knalpot dari beragam jenis kendaraan.

Hidup sebagai bagian dari para perantau di Ibukota ini, menjadikan Shandy sebagai sosok pribadi yang mandiri. Ia sangat solitaire. Hampir seluruh pelosok Jakarta ia sambangi. Sampai-sampai beberapa teman menyebutnya ‘Peta Hidup’. Bagaimana tidak, ketika kamu berencana pergi ke suatu tempat di Jakarta tapi bingung mau lewat mana, langsung saja hubungi Shandy, dijamin deh kamu akan mendapat berbagai jalur alternatif menuju tempat tujuanmu.

Berkas-berkas diatas meja kerja pun sudah dirapikan, earphone sudah bertengger di telinga Shandy. Ia memutuskan untuk bergegas ke kampus yang hanya beberapa kilometer dari kantornya itu. Kantor, kampus dan kos-kosan Shandy masing-masing berdekatan. Ia sengaja memilih lokasi ketiganya yang saling berdekatan. Biar gak capek, katanya. Pegawai yang juga ‘nyambi’ kuliah di tempat ia bekerja bisa dibilang cukup banyak. Jadi jangan heran kalau sedang musim UTS, UAS dan Skripsi banyak dari pegawai di kantor ini pulang beberapa jam lebih awal sampai-sampai ada yang minta izin cuti kantor lantaran mata kuliah yang diujikan cukup menguras perhatian. “Kuli oh Kuli…” adalah ungkapan yang sering Shandy ucapkan kala ia sedang merasa dibawah tekanan antara tugas kantor yang menumpuk dan jadwal ujian yang menghimpit waktu belajarnya.

“Hai, Shan… Kemane lo? Nguli?”, tegur Alex sambil mengaduk secangkir kopi yang dibawanya dari pantry.

“Yoi, Lex. Maklumlah… Mr. Busy… Hehe…”jawab Shandy sambil berjalan menuju pintu keluar ruangan staff redaksi.

Shandy tiba-tiba berhenti tepat beberapa langkah menuju pintu keluar. Matanya mengitari seluruh pojok ruangan. Ada Mbak Andin sang sekretaris senior sedang asyik telponan di meja kerjanya. Di sudut kiri ada beberapa anak magang sedang asyik cekikikan sambil melihat laptop salah satu dari mereka. Dan Alex. Alex masih menikmati kopi buatannya itu sambil diselingi aktivitasnya di laptop berwarna silver itu. Shandy berbalik menuju meja Alex.

“Lex. Emm… Soal di pestanya Ollie kemarin malam, sorry banget ya. Gw gak tahu kalau anak-anak sudah bikin skenario kayak gitu. Gw juga baru dijelasin tadi pagi sama Sonya dan Andre. Mereka juga minta maaf banget dan gak tahu kalau akhirnya malah bikin lo marah, gw marah.”, ungkap Shandy sambil berusaha duduk di kursi depan meja Alex. Mata Alex belum beranjak dari laptopnya. Seakan-akan berkata, “Yawda lo ngomong aja, gw dengerin kok.”

Shandy kikuk. Ia menunggu beberapa menit sampai Alex benar-benar mau menerima permintaan maafnya. Paling tidak, sekedar melihat kalau benar Shandy sudah meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Alex yang saat ini ada didepannya tak berbeda dengan Alex yang ia temui beberapa tahun lalu. Ketika Shandy pertama kali bekerja di penerbitan kecil ini. Alex yang tidak begitu suka memakai pakaian dengan warna mencolok tampak begitu dingin dengan kacamata yang tak selalu dikenakannya itu, tentu telah membuat Shandy yang bisa.dibilang anak junior disana merasa ada hal yang menarik dari diri Alex. Dimana wanita sekarang senang mengikuti tren iklan shampoo dengan model rambut panjang terurai, namun Alex, tampilan rambutnya sangat maskulin. Potongan rambut yang lurus dan pendek sangat menegaskan kalau Alex adalah sosok wanita yang beda.

“Done!”, seru Alex dengan wajah sumringah.

Entah apa yang ia kerjakan. Sepertinya begitu penting dan harus segera diselesaikan saat itu juga. Shandy tetap menatap gerak-gerik Alex yang beralih dari laptop dan mengambil secangkir kopi yang sepertinya sudah mulai dingin.

“Well, Shane. Gw santai aja kok. Lo gak perlu kayak terdakwa korupsi gitu dong. Hahaha… Gw juga udah dijelasin Sonya tadi pagi, tapi si Andre belum ketemu gw seharian ini. Yang pasti gw sih santai aja. Ya namanya juga nge-party gitu. Banyak hal yang bisa terjadi kok, Shane.”,

Alex menjelaskan ketidak keberatannya perihal kejadian memalukan di pesta ulang tahunnya Ollie. Shandy dibuat mabuk oleh teman-temannya dan dibuat satu permainan ‘Dare or Truth’. Kondisi Shandy yang mabuk, membuat ia memutuskan memilih ‘Dare’ dengan tantangan mengungkapkan cinta pada salah satu wanita yang hadir di acara tersebut. Sialnya, Shandy yang mabuk memilih Alex sebagai target tantangannya.

“Tapi, Lex…”, lanjut Shandy namun seperti ada yang ia ingin katakan namun sulit diungkapkan saat ini.

“Kenapa? Tapi kenapa, Shane?”, tanya Alex yang merasa agak aneh dengan perkataan Shandy yang tiba-tiba terhenti.

“Emm, gak jadi. Hehe.. ng… gw duluan ya…”, jawab Shandy dengan kikuknya.

Shandy beranjak dari kursi yang ia duduki di depan meja Alex, Dan ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dengan wajah merah padam. Ia mengelus-elus dadanya. “Sabar Shane, belum saatnya…”, ujarnya pelan.

Alex mengernyitkan dahi dan cemberut. “Woy, ngegantung banget sih lo! Bikin PR aja!”, teriak Alex kearah Shandy yang makin hilang menjauhi ruangan staff redaksi.

Senja pun kembali dipeluk malam.

large

6 Juni 2013, di kamar berukuran 3 x 3m.

Sepaket Kotak Kamu

Suatu saat nanti, akan datang padamu sepaket kotak kata yang berisi semua rapalan-rapalan tentang mu.

Suatu hari nanti, akan datang padamu sepaket kotak gambar yang tak lagi bisa diungkapkan kata.

Suatu hari nanti, akan kujahit luka-luka kecil bak lubang di baju yang kemudian menjadikannya indah kembali.

Sebab luka itu indah. Selagi itu tentangmu. Karenamu. Apalah arti luka yang perihnya terasa sangat manis.

Sejauh aku masih disini, tak ragu ku berdiri. Dengan mata yang panjang. Sesekali menengok jam, menanti ritual kita.
Pada waktunya, sepaket kotak ini akan datang kepadamu.

Bersiaplah kasih. Semoga tak ada penyesalan mengiringi.

 

Didalam kotak-kotak berisi semua tentangmu.

Flame on You by Eko Supriyanto : Interpretasi lakon pada tarian

Kali ini, Eko Supriyanto mengangkat satu cerita dari Kisah Ramayana dimana Ramayana sebenarnya diambil dari ceritera yang benar-benar terjadi di daratan India.
Saat itu daratan India dikalahkan oleh India Lautan yang juga disebut tanah Srilangka atau Langka, yang dalam pewayangan disebut Alengka.
Tokoh Rama adalah pahlawan negeri India daratan, yang kemudian berhasil menghimpun kekuatan rakyat yang dilukiskan sebagai pasukan kera pimpinan Prabu Sugriwa.
Sedang tanah yang direbut penguasa Alengka dilukiskan sebagai Dewi Sinta (dalam bahasa Sanskerta berarti tanah).Dalam penjajahan oleh negeri lain, umumnya segala peraturan negara dan budaya suatu bangsa akan mudah berganti dan berubah tatanan, yang digambarkan berupa kesucian Sinta yang diragukan.

Karya Eko Supriyanto ini pada awalnya dikembangkan sebagai bagian dari Pertukaran Koreografer Asia Tenggara di Kamboja yang difokuskan pada Ramayana. Goethe-Institut dengan bangga menyelenggarakan pertunjukan perdana karya ini di Jakarta pada Sabtu malam, 7 April 2012. Saya berniat sekali untuk menonton acara ini bersama teman yang kebetulan juga menyukai karya-karya Eko Supriyanto. Dan seperti biasa, Goethe Haus penuh diisi penonton yang juga kebanyakan undangan dari Kedutaan Jerman dan negeri tetangga. Sungguh bangga menjadi bagian dari pertunjukan kemarin malam. Mereka terlihat antusias tak kalah dengan penonton yang memang berasal dari Indonesia.

Pertunjukan ini menceritakan saat-saat kebebasan Sinta bertahun-tahun diculik oleh Rahwana, dimana Sinta seharusnya meminta Rama untuk membakar dirinya guna membuktikan keperawanannya. Tapi Sinta mengatakan tidak terhadap Rama, karena ia tahu bahwa ia pasti akan mati dalam api.

Karya Eko Supriyanto ini pada awalnya dikembangkan sebagai bagian dari Pertukaran Koreografer Asia Tenggara di Kamboja yang difokuskan pada Ramayana. Goethe-Institut dengan bangga menyelenggarakan pertunjukan perdana karya ini di Jakarta pada 7 April 2012.

Karya “Flame on You” oleh koreografer ternama Eko Supriyanto yang terpadu dengan alunan musik oleh Jen Shyu, menunjukkan bagaimana Rama melupakan cintanya kepada Sinta dan bagaimana aspek hewani dalam tubuhnya telah mengendalikan hasratnya. Sementara Sinta berdiri melawan Rama, ia juga merasa malu pada dirinya sendiri. Kebalikan dari sisi kebinatangan dan humanistik umat manusia membuat kita mempertanyakan arti “cinta” dan “manusia” di dunia ini.

Salam.

___

8.4.12

kita sebut itu : Rindu

beri aku waktu,
ada yang ingin aku sampaikan padamu
walau beberapa kata
meski beberapa tatap

beri aku waktu,
untuk ucapkan kata
untuk ungkapkan rasa
untuk sampaikan asa

beri aku waktu,
untuk sekedar menatap
untuk melepas hasrat
untuk menerka rasa

beri aku waktu,
untuk hempaskan harap
untuk lepaskan tawa
untuk lenyapkan lara

beri aku waktu,
untukmu melihat jutaan cinta menari di mataku
untuk sekedar menatap mata sedihku
yang sengaja kutimbun didalamnya berjuta rindu
hingga saat kau beri aku waktu…

___

3×2,5
8.4.12