pada hari itu, aku tetap berdiri.

Tak sekedar harap,
Kau sapa malamku
Tak hanya sekejap,
Kau sapu airmataku
Tak mungkin kulupa,
Kau isi sebagian hidupku
Tak akan mungkin,
Kau bisa terganti

Aku terpendar sepi,
Menatap nanar masa depan kelak
Entah apa aku jadinya,
Begitupun engkau
Hanya saja,
Aku mulai terbiasa untuk berdiri
Tegap
Dan siap berjalan…
Menapaki setiap detik perjalananku
Menikmati setiap resahku
Menepis semua raguku

Aku yang masih mencoba terbiasa berdiri,
Mencoba lebih bijak melihatmu jauh di sana
Mencoba lebih jumawa melihat diri sendiri
Mencoba lebih lapang akan masa
Masa yang terus mengikuti kita
Masa yang kelak akan menenggelamkan kita
Pada kenyataan dan keadaan

Pada saat itu,
Aku tetap mencoba untuk berdiri
Meyakini penglihatanku,
Mengakui keberadaanku,
Membiarkan masa membawamu
Jauh bersama mereka,
Mereka akan masa lalu dan juga masa depanmu

Aku tetap disini,
Mencoba untuk lebih bertahan dan tetap berdiri
Pada semua harapanku,
Pada setiap asa ku,
Yang hampir goyah karena hilang tumpuan
Yang hampir merapuh ditengah kenyataan
Yang hampir musnah bersama angin, angin kesedihan

Tapi aku,
Aku jiwa yang akan tetap berdiri meski dengan tumpuan terakhir.

___

10 Februari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: