CINTA, KUTUK AKU DALAM KEABADIAN!

pemetikluka

Sepasang tangan ini adalah doa, saat kebahagiaan dan kesedihan tiba. Bermunajat di antara celah kefanaan dan kesementaraan, di antara kedatangan dan kepergian.

“Musim apalagi yang kau tunggu, cinta hanya menunda kecemasanku”, katamu pada suatu waktu.

“Sepasang tanganku berdoa; musim tak akan pernah ada!”, kataku, mencoba mengelabuhi waktu.

Lalu angin menerbangkan kesunyianku, dan juga kesunyianmu, pada sesuatu yang asing. Sesuatu yang tak pernah tunduk kepada waktu, sesuatu yang cinta sendiri pun tak pernah tahu.

“Bukankah kita hanyalah sepasang kesedihan yang saling menentramkan?”, tanyamu pada sepiku.

“Lalu, siapa yang abadi; jika cinta hanya mengajarkan ketabahan saat kehilangan?”, tanyaku, sambil sesekali mencoba menghentikan detak waktu.

“Tak ada yang abadi; selain sunyi, selain puisi…”

View original post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: