Jika mencinta seumpama makan siang…

Akan kuhabiskan sampai perutku kekenyangan

Akan kurelakan waktu istirahatku yang hanya satu jam sebaik-baiknya

Akan kucari temanku yang membawa payung,

hanya untuk menumpang sepanjang perjalanan ke kantin jika hujan atau panas di siang hari

Akan kunikmati sepenuh hati tiap butiran nasi yang kumakan,

walaupun lauknya hanya dengan ikan asin dan sambal

Akan kupilih warung makan terbaik yang menyediakan menu pilihan dan enak yang ada di kantin

Akan kumakan dengan pelan,

seperti kata Rasul, mengunyahnya sampai 33 kali bukan?

Atau bahkan, tak ingin aku memakannya walau perut lapar

Biar kupandangi sampai siang keesokan harinya.

Celoteh sang Pecinta di waktu makan siang

Perihal dalam labirin abu-abu

perihal pertemuan yang tak ingin terpisah

perihal hati yang tak pernah jemu berbunga

perihal rindu yang menjejaki hari-hari

perihal nestapa yang menjadi gula-gula

perihal kisah yang terus bermantra asa

perihal rasa yang tak pernah kenal sesal

ini hanya tentang sebuah perihal dalam labirin abu-abu…

labirin abu-abu

Siklus

Kemarilah,
Istirahatkan tubuhmu pada riuh rinduku.
Bersandarlah,
Pada dada yang senantiasa menopang peluhmu.
Berceritalah,
Pada jiwa yang setia mendengarkan.
Tertawalah,
Biarkan bebanmu kusimpan rapat di pundak ini.
Menangislah,
Biarkan peluk ini menampung semua lukamu.
Pergilah,
Jika kelak jemari tak kuasa lagi untuk saling mengenggam.

Kalau kelak…

Mengapa tak kau biarkan ia berdiri tegap, kalau nantinya akan kau tinggalkan ia terkulai lemas.
Mengapa tak biarkan saja ia berharap pada asa, kalau kelak kau biarkan harapnya memudar.
Mengapa kau rela bermanja waktu dengannya, kalau kelak waktu pun tak akan bisa menguatkannya.
Mengapa kau rela mengukir citanya, kalau kelak cita itu menjadi terlalu muluk digapai.
Mengapa kita rela bermandi rasa, kalau kelak harus tak berperasa.

Gadis Kecil Pembawa Keranjang

Seharian penat dengan hiruk pikuk pekerjaan yang menguras otak saya, sore ini saya berniat untuk pulang tenggo.

Niat ini sudah dari pagi hari nya saya rencanakan. Membayangkan bisa cepat sampai rumah dan bisa melepas lelah sambil membaca beberapa buku yang saya lupakan beberapa minggu belakangan ini.

“Yuk, cabut!”, ajak salah satu teman satu ruangan saya sambil menyabar tas yang diletakkan diatas meja kerjanya.

“Yuk ah!”, saya pun bergegas untuk pulang kantor tenggo setelah memastikan komputer serta berkas yang semula membuat meja kerja saya semerawut menjadi rapih. Hanya tersisa komputer dan mouse kecil berbentuk tempurung kura-kura. hihi… lucu memang. Oleh-oleh dari kakakk sepupu yang dengan sengaja membelikannya ketika ia dinas luar negeri.

Saya dan beberapa teman kantor berniat mampir ke sebuah warung makan pinggir jalan yang biasanya menjadi tujuan makan malam kami sebelum benar-benar pulang kerumah.

Warung soto kaki lima di daerah pecenongan menjadi tempar favorit saya dan beberapa teman kantor. Selain satu arah dengan arah pulang kami, disini tempatnya nyaman. Ya memang sih, agak terganggu dengan pengamen yang silih berganti menghampiri kami. Tapi saya rasa, di semua tempat makan di Jakarta, apalagi warung makan empire alias emperan, sudah pasti dimeriahkan oleh mereka itu. Bahkan lucunya, makanan pesanan kita belum juga sampai, tapi pengamennya sudah 3 kali ganti. Haha… sungguh terlalu ya.

Kembali ke menu warung soto favorit kami ini, disini hanya ada satu jenis soto, Soto Madura. Rasanya yang khas membuat saya ketagihan. Rasa dan harganya yang familiar kocek saya ini membuat saya tak pernah bosan datang ke warung soto ini.

Sudah dua pengamen dengan genre lagu berbeda menghampiri meja saya. Pengamen pertama menyanyikan sebuah lagu bernuansa Melayu dan pengamen yang kedua menyanyikan lagu nostalgia era Koes Ploes. Lengkap sudah makan malam di warung soto ini.

“Soto nasi campur nya tiga, soto nasi pisah nya satu aja ya  Mas, jangan lupa gak pake daun bawang ya semuanya…”,

Temanku sibuk memesan makan malam kami ini. Seperti biasa, sepulang kantor kami akan mencari tempat makan yang bisa mengobati rasa lapar di malam hari.

“Tissue nya Pak, Tissue nya Bu…”,

Kami dikejutkan oleh segerombol anak kecil sekitar 8-10 tahun yang menawari kami dagangannya.

“Maaf Dik, kami tidak butuh tissue. Terima kasih ya…”, sahut temanku meminta maaf dengan lambaian tangan menujukkan penolakan.

Dan mereka pun pindah ke meja lainnya. Tapi, gadis kecil ini tetap berdiri di meja kami. Sembari senyum kecil ia melihat-lihat ke arah keranjang dagangannya itu. Saya melihat ada tissue, peniti, lem, dll. Gadis kecil ini berumur sekitar 8 tahun, mengenakan kaos putih agak kebesaran bergambar salah satu Jagoan Jepang itu.

Karena merasa kasihan, saya mengambil uang dua ribuan dan berniat memberikannya kepada gadis kecil itu angtanpa berniat membeli dagangannya.

“Dik, ini buat kamu.”,

Gadis kecil itu hanya tersenyum dan menggeleng.

“Ambil saja Dik, gak papa kok…”, teman saya meyakinkan gadis kecil itu.

Dia tetap tersenyum dan menggeleng seperti semula.

Dengan perasaan heran, saya bertanya kepadanya. “Kenapa kamu tidak mau? Kan kami mau memberi…”, tanya saya yang keheranan.

Dengan ramah ia menjawab, “Ibu bilang, saya tidak boleh mengemis…”

Rasanya saya seperti ditampar batu besar. Pikiran saya buram. Saya menarik napas dalam. Tak menunggu lama, saya langsung memborong semua dagangannya. Yak… Tak ada yang lebih bijak dari ini.