Jika Bukan Kamu…

Entah apa jadinya raga
Membabi buta pada hawa nafsu
Efek kehidupan remaja beranjak dewasa

Entah apa jadinya kata
Yang kusimpan hanya dalam diam
Membisu, beku bak fosil yang ribuan tahun tertanam

Entah apa jadinya rasa
Yang sesukanya berlari kesana kesini
Tak pernah tahu arah pulang
Kidung pembaringannya…

Entah apa jadinya semangat
Yang tersesat pada jalan buntu
Pada pemikiran-pemikiran dangkal tetua

Entah apa jadinya,
Jika yang aku temui kala itu bukan kamu…

Datang dan bakar kepalaku!

Biar kunyalakan bara ini agar jenuh mengabu.
Biar aku bungkam jenuh ini hingga tak lagi mengganggu waktu.
Biar kupaksa jenuh ini lenyap dari otakku.
Biar ku tanam dalam-dalam jenuh ini hingga tak lagi tumbuh di sepi hariku.
Biar ku hanyutkan jenuh ini hingga mengalir semua sampai ke hulu dan mendasar di lautan dalam.
Biar ku beri kau segala jenuh yang memekik di setiap ruang kepalaku.
Datanglah, dan bakar kepalaku!

Puisi tak lagi berkuasa…

Puisi tak lagi berkuasa atas pengharapan rindu.

Bagaimana bisa puisi menguasai rindu, Sedangkan puisi sendiri pun merindukan sang rindu.

Hetih : Editor + Penulis = Suami + Istri

#BiSik (red : Bincang Asik) #KlubBuku dengan Editor Hetih Rusli Hetih dari Gramedia Publishers.

Tiga tugas paling utama dari seorang editor adalah mencari naskah, memperbaikinya, lalu menerbitkannya. Dulu ada ungkapan bahwa editor adalah jenderal berbintang lima bagi setiap buku yang diterbitkannya. Saya rasa, ungkapan itu masih tetap berlaku sampai sekarang.

Tugas yang pertama adalah mempertimbangkan “nilai komersil dan nilai sastra” dari sebuah naskah berdasarkan selera Anda. Caranya ialah dengan banyak membaca. Andalah yang memutuskan apakah penulis ini layak untuk diangkat, apakah naskah ini pantas untuk diterbitkan, dan apakah penulis berbakat ini pantas untuk dikembangkan.
Sosoknya yang dibelakang layar, memang kerap membuat peran editor ‘tidak nampak’ di mata pembaca.

Padahal, editor adalah salah satu figur pengawal standar mutu dunia literasi.
Beliau adalah Penerjemah buku Trilogi The Hunger Games yang sekarang sedang meraih sukses dalam penjualannya di dunia, termasuk di Indonesia. Perjalanan yang cukup panjang bagi buku ini untuk bisa meraih gelar BEST-SELLER di Indonesia, apalagi sebelumnya belum banyak yang tertarik dengan buku bertema dystopian ini.

Yuk, langsung saja kita lihat petikannya #BiSiK Eps #4 bersama Hetih Rusli :

#KlubBuku: Selamat malam Mbak Hetih. Bisa jelaskan sedikit tentang profil Mbak Hetih ke #SahabatKlubBuku semua? :”D
H : Saat ini saya bekerja sebagai editor fiksi di Gramedia Pustaka Utama. Pekerjaan yang sudah saya jalani 12 tahun.

#KlubBuku: Nah, Kegiatan Mbak Hetih saat ini apa saja selain sebagai editor dan juga penulis?
H : Sebagai editor, mencari dan membaca naskah yg masuk ke redaksi. Mengedit dan proofread naskah yang sudah disetujui terbit. Sayangnya saya belum jadi penulis. Cuma penulis tergantung mood di blog pribadi.

#KlubBuku: Bisa diceritakan ke #SahabatKlubBuku, gimana awal mula Mbak Hetih akhirnya bisa ‘terjerumus’ dalam dunia editor?
H : Sebenarnya saya tersasar jadi editor karena latar belakang saya fakultas ekonomi. Mulainya karena jadi penerjemah freelance saat kuliah.

#KlubBuku: Sebutan editor sangat banyak seperti associate editor, acquiring editor, associate publisher & publisher artinya apa?
H : Untuk artinya bisa cek wiki: http://t.co/4Zgzl1E7 Tdk semuanya dimiliki perusahaan penerbitan tergantung kebijakan. Penerbitan besar bisa punya beragam kategori editor tersebut. Tapi penerbit kecil tidak butuh jenjang sebanyak itu.

#KlubBuku: Apakah seorang editor harus berlatarbelakang sebagai seorang penulis juga ?
Tidak juga. Editor tak perlu berlatarbelakang sebagai penulis. Yang pasti editor HARUS pembaca, dan suka membaca.

#KlubBuku: Pernahkah ada kasus bantuan editorial tidak diperlukan lagi oleh penulis dan penerbit?
H : Sepanjang saya jadi editor di GPU, setiap buku yang terbit selalu melewati proses editorial.

#KlubBuku: Bagaimana dengan pengarang yang membutuhkan begitu banyak bantuan editorial? Cepek gak mbak Hetih ?
H : Sebanyak apa? Kalau editornya harus menulis ulang, lebih baik penulisnya merevisi sendiri. Tugas editor bukan menulis ulang. Jika penulis nggak sanggup revisi sendiri, minta bantuan ghost writer halal aja. Tapi bukan tugas editor menuliskan untuknya.

#KlubBuku: Apa yang menjadi ukuran dari keberhasilan seorang editor?
H : Ukuran saya sih; Ikut bangga jika pengarangnya sukses, menghasilkan bestseller, dan terutama tetap bahagia jadi penulis.
#KlubBuku: Apa kompetensi yang wajib dimiliki seorang editor. Apa ada pendidikan khusus untuk itu ?
H : Pastinya punya dasar kemampuan bahasa yang baik & benar. Mau terus belajar karena bahasa berevolusi. Terpenting, cinta buku & baca. Peningkatan kemampuan bahasa juga bisa dengan kursus atau mengambil kuliah bahasa lagi, walau ini cuma tambahan.

#KlubBuku: Apakah pandangan pribadi seorang editor harus merupakan refleksi dari pandangan perusahaan?
H : Tidak harus. Tapi sebaiknya editor sepaham dgn perusahaan tempatnya bekerja. Kalau tidak, bagaimana bisa betah dan bahagia?

#KlubBuku: Apakah yang terjadi bila terjadi perbedaan pendapat antara editor dan pengarang tentang arah sebuah naskah/buku?
H : Bisa diskusi dan diobrolkan. Editor dan penulis tak perlu saling memaksakan kehendak. Biasanya sih bisa diselesaikan baik2.

#KlubBuku: Bagaimana seorang pengarang harus memandang editornya?
H : Editor = partner penulis. Harus saling percaya dan kerja sama antara keduanya. Kedudukannya seimbanglah, seperti suami-istri :)

#KlubBuku: Apakah nasehat yang akan mbak Hetih berikan kepada para editor dalam berhubungan dengan pengarang?
H : Jangan merasa lebih pintar daripada si pengarang. Tapi jangan takut/minder pada dia. Berikan yang terbaik dari kita untuknya.

#KlubBuku: Bisakah naskah kita diterbitkan sebuah perusahaan penerbitan, tapi ditangani oleh editor yang tidak bekerja di perusahaan tersebut?
H : Jika maksudnya editor yang tidak bekerja tetap di perusahaan, tentu ada. Bisa saja naskah diedit oleh editor freelance.

#KlubBuku: Apakah tidak ada pengarang yang bisa melakukan tugasnya dengan baik tanpa bantuan editor?
H : Penulis yang baik bukan berarti dia tak lagi butuh editor. Tugas editor bukan cuma memperbaiki ejaan atau kesalahan penulis Editor memberi sudut pandangnya sebagai pembaca pada penulis. Sesuatu yang takkan mungkin dimiliki penulis pada naskahnya. Sudut pandang editor juga menjadi jembatan antara penulis dan pembaca. Di sinilah perlunya editor sebagai partner penulis
.
#KlubBuku: Apakah editor dan pengarang perlu senantiasa membahas aspek pemasaran sebuah buku?
H : Tidak harus. Tergantung pengarangnya, ada yang gak mau tahu soal itu. Tapi editor yang baik harus punya ‘sense’ sebagai pemasar.

#KlubBuku: Apakah ada pengarang-pengarang berbakat yang karyanya mubazir karena mereka tidak berhasil menemukan penerbit?
H : Saya gak percaya ada karya yg mubazir. Paling tidak, karya itu seharusnya bisa memperkaya batin si penulis. Setiap naskah punya jalannya sendiri untuk terbit. Jika memang bagus, ada jalan untuk terbit asal ga cuma di-save di komputer

#KlubBuku: Bagaimana menentukan satu buku yang bisa jadi bestseller?
H : Dari penjualan tentunya. Biasanya jika berhasil terjual di atas 10rb eksemplar termasuk bestseller. Tapi bagaimana memprediksi buku jadi bestseller, saya ga punya resepnya. Lengkapnya tentang ketidaktahuan saya di: http://t.co/AOFR7evk

#KlubBuku: Pesan-pesan Mbak Hetih untuk para penulis khususnya para penulis baru yang ingin mengirim naskah ke penerbit? :”D
H : Jangan takut mengirim naskah ke penerbit. Ingat, pengarang yg sekarang bestseller itu dulu mulainya dr pengarang baru lho.

 

Demikianlah petikan Bincang Asik #BiSik #KlubBuku bersama Hetih Rusli , semoga #BiSik Eps. #4 ini memberi manfaat.
#BiSiK (Bincang Asik) adalah salah satu agenda dari @KlubBuku , sebuah akun komunitas para pecinta buku, yang berisi tentang perbincangan menarik dari berbagai tokoh pendukung literatur, #BiSiK ini hadir setiap Minggu malam pukul 19.30wib.

 

 

Soegija oh Soegija…

Minggu pagi saya putuskan untuk pulang kerumah, walaupun sore harinya saya harus sudah kembali ke kehidupan monoton sehari-hari. Bertemu para pengejar mimpi dan para penikmat dunia.

Sesampainya dirumah, saya pun melanjutkan beberapa kegiatan tentunya berurusan dengan komputer. Email dan surfing segala macam info menjadi hal yang secara tak sadar terus berulang-ulang saya lakukan setiap harinya. Monoton bukan?

Selang berbincang dan bertanya kabar dengan mama, saya kembali melanjutkan draft daftar pertanyaan untuk sesi obrolan dengan seorang penulis yang baru-baru ini mengeluarkan sebuah bukunya setelah belum lama mengeluarkan bukunya yang berjudul Cerita Cinta Enrico.
Handphone saya memberikan notifikasi bahwa ada chat yang masuk. Tidak menunggu lama, saya hampiri dan melihat ada pesan masuk dari teman yang berprofesi sebagai wartawan di salah satu stasiun TV swasta nasional.

Berikut obrolannya :

Teman : hai Dek, lagi apa?

Saya : lagi nonton tivi mas, lagi pulang soalnya… Hehe

Teman : oiya, Mas punya buku nih.

Saya : wah, buku apa? Judulnya? Baru?

Teman : Judulnya Dipasena: Kemitraan, Konflik, dan Perlawanan Petani Udang. Seru loh, garapannya spt novel

Saya : oya? Mau baca dong…

Teman : ini masih nunggu kiriman, hehe… Mas aja gak sabar…

Saya : siapa pengarangnya?

Teman : wah mas kurang tahu…

Saya : nanti malam aku mau wawancara sm penulis buku Soegija mas… Hehe

Teman : kereeeeen… Tapi dek, asal kamu tahu, Soegija itu banyak yg dipotong lho.

Saya : emm, dipotong? Filmnya maksud mas? (Saya sempat bingung disini)

Teman : Jgn bilang dari wartawan.

Saya : emm, maksudnya? Aduh gak ngerti… Aku kan wawancara penulis bukunya mas. Bukan penggarap film nya. Jadi yang aku bahas, seputar literaturnya, penulis dan sosok Soegija itu sendiri… (Tambah bingung)

Teman : nih dek, yang wajib kamu tanyakan. Kenapa harus berbeda dibuku dengan di filmnya? Bukankah film itu mengikuti buku?

Saya : tapi kan versi film dan buku itu berbeda mas. Kalau buku, bisa saja dibuat sampai setebal mungkin. Film? Pastia ada beberapa yang di potong.

Teman : Toh kalo dilihat kan sebuah film merupakan sejarah. Ya pasti beda lah film dan buku.

Saya : Maksudnya, soegija dlm film lebih general ceritanya. Balik lagi sesuai si penggarap film deh sepertinya…

Teman : Nah yg km harus tau adalah ini. Buat teman2 yg sudah nonton SOEGIJA dan mungkin merasa seperti saya “kok film nya biasa saja dan kurang mengeksploitasi sosok soegija”, ini ada info penyebabnya : Soegija sama LSF dibabat abis beberapa adegan yg kontroversial, jadilah tuh film ngak jelas alur ceritanya. Cerita ttg kedekatan Bung Karno dgn uskup, hilang. Cerita ttg jugun ianfu, hilang. Cerita ttg para imam yg dibunuh, hilang. Cerita ttg apa yg sdh dilakukan Soegija di kancah politik luar negeri, juga hilang. Dan masih banyak lagi penggalan2 cerita yg penting dihilangkan LSF. Film aslinya 3 jam, di bioskop cuma jadi 1 jam 45 menit. Kenapa harus dihilangkan??

Saya : Well, itu nanti sesi wawancara dengan mas garin kali yaa… (Mulai bete nih)

Teman : Inget loh dibuku meskipun menceritakan biografi sosok soegija tapi pasti ada cerita mengenai apa yg dilakukan dirinya semasa hidupnya.

Saya : *emoticon senyum kecut*

Teman : Bukan hanya menceritakan kepribadian soegija doang kan. Yg penting gimana km bisa mengkritisi sebuah karya aja nanti pas wwc dengan penulisnya. Semoga mendapat kebenaran dari semuanya itu. Toh pembuat film akan meminta izin dulu dari seorang penulis buku.

Saya : yess!!! Tapi sejauh ini aku masih berkutat di buku nya mas, krn membawahi klub dengan minat buku dan menulis. jadi aku blm ada sesi wawancara dgn penggarap filmnya mas

Teman : Ngga semata” langsung membuat film, Karena. Penulis juga mempunyai andil saat karyanya akan dilayar lebarkan. Iya mksdnya pasti ada keterkaitan kenapa ceritanya dipotong di layar lebar. Gitu lhooo…

Saya : oh, iya deh. Semoga bisa diselipkan. (Melipir, senyum kecut, tanduk keluar).

 

dalam hati –> *Dia itu tahu gak sih mas Garin angkat fil Soegija dari bukunya siapa? Kan nanti malam saya mau ngobrol sama Ayu Utami dengan buku Soegija 100% Indoneseia. Capek deh…..*

____

Rumah, 17.6.12
11.59