Siklus

Kemarilah, Istirahatkan tubuhmu pada riuh rinduku. Bersandarlah, Pada dada yang senantiasa menopang peluhmu. Berceritalah, Pada jiwa yang setia mendengarkan. Tertawalah, Biarkan bebanmu kusimpan rapat di pundak ini. Menangislah, Biarkan peluk ini menampung semua lukamu. Pergilah, Jika kelak jemari tak kuasa lagi untuk saling mengenggam.

Kalau kelak…

Mengapa tak kau biarkan ia berdiri tegap, kalau nantinya akan kau tinggalkan ia terkulai lemas. Mengapa tak biarkan saja ia berharap pada asa, kalau kelak kau biarkan harapnya memudar. Mengapa kau rela bermanja waktu dengannya, kalau kelak waktu pun tak akan bisa menguatkannya. Mengapa kau rela mengukir citanya, kalau kelak cita itu menjadi terlalu muluk... Continue Reading →

Di sebelah kirimu…

Tuan, tahukah kamu ada hati yang merindu di sebelah kirimu. Hati yang jatuh cinta ketika melihatmu tertidur lelap. Tuan, aku sering bersembunyi di sebelah kirimu menyimpan semu kemerahan ketika melihat kerling matamu. Tuan, aku seringkali melukis tentang mu. Kulukis dengan jemari dan menyesapkan rindu-rindu dalam warnanya. Aku seringkali berkunjung ke kepalamu. Berputar-putar mengulum permen isi... Continue Reading →

Diam Menyibukkan.

Aku tak sekedar diam, melainkan terlalu sibuk merajut rindu untuk kusematkan nanti ketika bertemu. Aku tak sekedar diam, melainkan terlalu sibuk mengumpulkan cerita yang didalamnya selalu ada kamu. Aku tak sekedar diam, melainkan terlalu sibuk mengingat hal-hal lucu tentangmu yang menemani hari-hari sepiku. Aku tak sekedar diam, melainkan terlalu sibuk merapalkan setiap mantra harapan kita.... Continue Reading →

Sepaket Kotak Kamu

Suatu saat nanti, akan datang padamu sepaket kotak kata yang berisi semua rapalan-rapalan tentang mu. Suatu hari nanti, akan datang padamu sepaket kotak gambar yang tak lagi bisa diungkapkan kata. Suatu hari nanti, akan kujahit luka-luka kecil bak lubang di baju yang kemudian menjadikannya indah kembali. Sebab luka itu indah. Selagi itu tentangmu. Karenamu. Apalah... Continue Reading →

pada hampir tengah malam…

8 Juni 2009, Hampir Tengah Malam   Malam perlahan mengiring turun, menjelma hembusan lirih yang membangunkan embun-embun. Aku gelisah. Membolak-balikkan badan diatas kasur yang pas sukuran badanku ini. Aku hanya menyaksikan turunnya embun dibalik jendela kamar berukuran 3x4 ini. Entah apa yang ada dipikiranku. Selimut tipis ini jauh cukup menghalau dingin, bukan dari angina tau... Continue Reading →

Sang Pencipta rindu

aku merindukanMu... aku merindukanMu... hampa tersadar aku telah lupakanMu hati menjadi beku iya aku melupa   sungguh, rindu ini sangat pedih   memelukMu dalam sujudku melepas rinduku dengan bersimpuh di malamMu sepi aku merindukanMu...    

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: