Siklus

Kemarilah,
Istirahatkan tubuhmu pada riuh rinduku.
Bersandarlah,
Pada dada yang senantiasa menopang peluhmu.
Berceritalah,
Pada jiwa yang setia mendengarkan.
Tertawalah,
Biarkan bebanmu kusimpan rapat di pundak ini.
Menangislah,
Biarkan peluk ini menampung semua lukamu.
Pergilah,
Jika kelak jemari tak kuasa lagi untuk saling mengenggam.

Kalau kelak…

Mengapa tak kau biarkan ia berdiri tegap, kalau nantinya akan kau tinggalkan ia terkulai lemas.
Mengapa tak biarkan saja ia berharap pada asa, kalau kelak kau biarkan harapnya memudar.
Mengapa kau rela bermanja waktu dengannya, kalau kelak waktu pun tak akan bisa menguatkannya.
Mengapa kau rela mengukir citanya, kalau kelak cita itu menjadi terlalu muluk digapai.
Mengapa kita rela bermandi rasa, kalau kelak harus tak berperasa.

Di sebelah kirimu…

Tuan, tahukah kamu ada hati yang merindu di sebelah kirimu.
Hati yang jatuh cinta ketika melihatmu tertidur lelap.

Tuan, aku sering bersembunyi di sebelah kirimu menyimpan semu kemerahan ketika melihat kerling matamu.

Tuan, aku seringkali melukis tentang mu. Kulukis dengan jemari dan menyesapkan rindu-rindu dalam warnanya.

Aku seringkali berkunjung ke kepalamu.
Berputar-putar mengulum permen isi coklat. Berlarian di pelupuk matamu.
Dan ketika lelah, aku mencari lenganmu untuk kupinjam hangatnya. Aku suka.

Aku suka sekali berseluncur dari lenganmu menuju jemarimu. Kubiarkan diri tenggelam di sela-selanya.

Tuan, sesekali tengoklah ke arah kirimu.

Padanya, ada rindu diam-diam di matanya.

Puisi tak lagi berkuasa…

Puisi tak lagi berkuasa atas pengharapan rindu.

Bagaimana bisa puisi menguasai rindu, Sedangkan puisi sendiri pun merindukan sang rindu.

Diam Menyibukkan.

Aku tak sekedar diam, melainkan terlalu sibuk merajut rindu untuk kusematkan nanti ketika bertemu.
Aku tak sekedar diam, melainkan terlalu sibuk mengumpulkan cerita yang didalamnya selalu ada kamu.
Aku tak sekedar diam, melainkan terlalu sibuk mengingat hal-hal lucu tentangmu yang menemani hari-hari sepiku.
Aku tak sekedar diam, melainkan terlalu sibuk merapalkan setiap mantra harapan kita.
Aku bukan hanya diam, melainkan terlalu sibuk memikirkan jalan mana lagi yang akan kita lalui demi menghabiskan malam untuk melepas rindu.

Aku.
Diantara semua kerinduanku.