Lelang Buku Bayar Karya ?

Halo…

Apa yang terlintas di pikiranmu ketika melihat judul postingan ini? ‘Lelang Buku Bayar Karya?’ terdengar menarik sekaligus membuat kita sebagai pecinta buku penasaran untuk mengetahui lebih lanjut apa dan bagaimana lelang ini berlangsung, bukan? 😀

Oiya, sekedar informasi, Lelang Buku Bayar Karya ini adalah salah satu kegiatan yang berlangsung di Grup Love Books A Lot ID yang disponsori oleh Mas Yayan Sopyan, dimana beliau juga merupakan salah satu Lobaloiders, begitulah sebutan kami untuk para anggota grup LBALID.
Ada 3 buah buku lawas tapi kondisi masih baru yang akan dilelangkan. Keren kan? hehe…

Aturan mainnya simple saja sih. Di kegiatan ini, yang menentukan pemenang lelang adalah satu dari Lobaloiders yang mendaftarkan diri juga mengikuti aturan mainnya dengan membuat tulisan sebanyak-banyaknya selama bulan Juni. Lobaloiders disini dipacu untuk membuat karya dalam bentuk tulisan selain puisi, sajak atau resep masakan tentunya ya (hihi), sebanyak-banyaknya dan diposting di blog pribadi masing-masing. Dalam kegiatan ini, memang bertujuan untuk membuat kita, Lobaloiders, mampu menulis cepat. Biasanya kalau curhatan sih yang cepet ya? XD

Kegiatan ini hanya berlangsung secara tertutup untuk Lobaloiders saja. Tapi, seiring berjalannya waktu bisa jadi ini sebagai kegiatan yang akan dibuka untuk umum. Tentunya sebagai apresiasi kami dalam dunia literasi, khususnya buku.

Wah, sudah gak sabar mau mulai utak-atik blog dan tentunya mencari inspirasi sebanyak-banyaknya. Selamat berkarya, selamat menulis.

image

@LoveBooksALotID
Read A Lot, Share A Lot

Soegija oh Soegija…

Minggu pagi saya putuskan untuk pulang kerumah, walaupun sore harinya saya harus sudah kembali ke kehidupan monoton sehari-hari. Bertemu para pengejar mimpi dan para penikmat dunia.

Sesampainya dirumah, saya pun melanjutkan beberapa kegiatan tentunya berurusan dengan komputer. Email dan surfing segala macam info menjadi hal yang secara tak sadar terus berulang-ulang saya lakukan setiap harinya. Monoton bukan?

Selang berbincang dan bertanya kabar dengan mama, saya kembali melanjutkan draft daftar pertanyaan untuk sesi obrolan dengan seorang penulis yang baru-baru ini mengeluarkan sebuah bukunya setelah belum lama mengeluarkan bukunya yang berjudul Cerita Cinta Enrico.
Handphone saya memberikan notifikasi bahwa ada chat yang masuk. Tidak menunggu lama, saya hampiri dan melihat ada pesan masuk dari teman yang berprofesi sebagai wartawan di salah satu stasiun TV swasta nasional.

Berikut obrolannya :

Teman : hai Dek, lagi apa?

Saya : lagi nonton tivi mas, lagi pulang soalnya… Hehe

Teman : oiya, Mas punya buku nih.

Saya : wah, buku apa? Judulnya? Baru?

Teman : Judulnya Dipasena: Kemitraan, Konflik, dan Perlawanan Petani Udang. Seru loh, garapannya spt novel

Saya : oya? Mau baca dong…

Teman : ini masih nunggu kiriman, hehe… Mas aja gak sabar…

Saya : siapa pengarangnya?

Teman : wah mas kurang tahu…

Saya : nanti malam aku mau wawancara sm penulis buku Soegija mas… Hehe

Teman : kereeeeen… Tapi dek, asal kamu tahu, Soegija itu banyak yg dipotong lho.

Saya : emm, dipotong? Filmnya maksud mas? (Saya sempat bingung disini)

Teman : Jgn bilang dari wartawan.

Saya : emm, maksudnya? Aduh gak ngerti… Aku kan wawancara penulis bukunya mas. Bukan penggarap film nya. Jadi yang aku bahas, seputar literaturnya, penulis dan sosok Soegija itu sendiri… (Tambah bingung)

Teman : nih dek, yang wajib kamu tanyakan. Kenapa harus berbeda dibuku dengan di filmnya? Bukankah film itu mengikuti buku?

Saya : tapi kan versi film dan buku itu berbeda mas. Kalau buku, bisa saja dibuat sampai setebal mungkin. Film? Pastia ada beberapa yang di potong.

Teman : Toh kalo dilihat kan sebuah film merupakan sejarah. Ya pasti beda lah film dan buku.

Saya : Maksudnya, soegija dlm film lebih general ceritanya. Balik lagi sesuai si penggarap film deh sepertinya…

Teman : Nah yg km harus tau adalah ini. Buat teman2 yg sudah nonton SOEGIJA dan mungkin merasa seperti saya “kok film nya biasa saja dan kurang mengeksploitasi sosok soegija”, ini ada info penyebabnya : Soegija sama LSF dibabat abis beberapa adegan yg kontroversial, jadilah tuh film ngak jelas alur ceritanya. Cerita ttg kedekatan Bung Karno dgn uskup, hilang. Cerita ttg jugun ianfu, hilang. Cerita ttg para imam yg dibunuh, hilang. Cerita ttg apa yg sdh dilakukan Soegija di kancah politik luar negeri, juga hilang. Dan masih banyak lagi penggalan2 cerita yg penting dihilangkan LSF. Film aslinya 3 jam, di bioskop cuma jadi 1 jam 45 menit. Kenapa harus dihilangkan??

Saya : Well, itu nanti sesi wawancara dengan mas garin kali yaa… (Mulai bete nih)

Teman : Inget loh dibuku meskipun menceritakan biografi sosok soegija tapi pasti ada cerita mengenai apa yg dilakukan dirinya semasa hidupnya.

Saya : *emoticon senyum kecut*

Teman : Bukan hanya menceritakan kepribadian soegija doang kan. Yg penting gimana km bisa mengkritisi sebuah karya aja nanti pas wwc dengan penulisnya. Semoga mendapat kebenaran dari semuanya itu. Toh pembuat film akan meminta izin dulu dari seorang penulis buku.

Saya : yess!!! Tapi sejauh ini aku masih berkutat di buku nya mas, krn membawahi klub dengan minat buku dan menulis. jadi aku blm ada sesi wawancara dgn penggarap filmnya mas

Teman : Ngga semata” langsung membuat film, Karena. Penulis juga mempunyai andil saat karyanya akan dilayar lebarkan. Iya mksdnya pasti ada keterkaitan kenapa ceritanya dipotong di layar lebar. Gitu lhooo…

Saya : oh, iya deh. Semoga bisa diselipkan. (Melipir, senyum kecut, tanduk keluar).

 

dalam hati –> *Dia itu tahu gak sih mas Garin angkat fil Soegija dari bukunya siapa? Kan nanti malam saya mau ngobrol sama Ayu Utami dengan buku Soegija 100% Indoneseia. Capek deh…..*

____

Rumah, 17.6.12
11.59